Berita Agama

Memberikan informasi tentang ilmu-ilmu keagamaan dan berita agama terbaru

Banner

Fakta Hari Besar Perayaan Umat Hindu Berdasarkan Kalender Saka

Fakta Hari Besar Perayaan Umat Hindu Berdasarkan Kalender Saka

Fakta Hari Besar Perayaan Umat Hindu Berdasarkan Kalender Saka

Fakta Hari Besar Perayaan Umat Hindu Berdasarkan Kalender Saka – Perlu untuk diketahui bahwa Kalender Saka, kadang-kadang disebut sebagai penanggalan Saliwahana, atau sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Mungkin lebih tepatnya yakni saat Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.

Tahun Baru Saka memiliki makna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Setiap tahunnya, umat Hindu merayakan pergantian Tahun Saka yang dilakukan dengan cara Nyepi selama 24 jam.

Fakta Hari Besar Perayaan Umat Hindu Berdasarkan Kalender Saka

Perayaan umat Hindu dirayakan untuk memperingati peristiwa maupun kebijaksanaan lokal. Hari besar umat Hindu itu pula dapat diketahui berdasarkan kalender Saka dan kalender Bali. Biasanya umat Hindu melakukan sembahyang atau seperti upacara suci, ketika sedang dalam perayaan umat hindu.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa hari besar agama Hindu di Indonesia, apalagi khususnya di Bali. Namun pada pembahasan kali ini, hanya difokuskan pada perayaan umat hindu yang berdasarkan kalender saka saja.

Fakta Hari Besar Perayaan Umat Hindu Berdasarkan Kalender Saka

 

Hari besar perayaan umat Hindu berdasarkan Kalender Saka terdapat 2 hari raya. Diketahui yakni Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Siwaratri. Mungkin, sebagian orang yang tidak beragama Hindu, kurang mengetahui apasajakah hari besar umat Hindu. Maka dari itu, agar menambah toleransi antar umat beragama, ketahuilah perayaan umat Hindu berdasarkan kalender Saka seperti berikut :

  • Hari Raya Nyepi

Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Sesuai namanya, pada Tahun Baru Saka semua umat Hindu di Bali melaksanakan catur brata penyepian dan menyepi. Namun, Hari raya Nyepi tak hanya dilakukan di Bali saja, Nyepi juga dilakukan oleh umat Hindu di sekitar Bali, misalnya di sebagian wilayah Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan, Jawa Timur.

Tidak seperti hari raya pada umumnya yang dirayakan dengan pesta dan hingar bingar, hari raya Nyepi dirayakan dalam kesunyian. Pada saat perayaan hari raya nyepi, maka semua kegiatan di Bali ditiadakan seperti tempat makan, pusat perbelanjaan, hingga bandara ditutup. Tetapi, terkhusus rumah sakit tetap berjalan seperti biasa.

Sebenernya tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah untuk meminta permohonan kepada Tuhan, untuk membersihkan alam manusia dan alam semesta. Oleh karena itu, perayaan ini memiliki makna sebagai hari pembaruan, kebangkitan, kedamaian, dan toleransi.

Makna mendalam dari perayaan ini adalah bahwa umat Hindu selalu diingatkan jika apapun yang ada di dunia bukanlah apa-apa, sehingga umat tidak boleh terlalu bergantung pada semua hal. Makna Hari Raya Nyepi lainnya adalah bahwa umat bisa menyambut tahun baru Saka dengan semangat baru, dan tubuh, pikiran, dan jiwa yang bersih dari hal-hal buruk yang sudah dilalui.

Hari Besar Perayaan Umat Hindu Tak Hanya Nyepi, Ternyata Ada Lagi

Nah mungkin, semua orang berfikir bahwa hari besar umat Hindu ialah hanya Hari Raya Nyepi. Namun, ternyata kamu telah keliru. Sebenarnya jika berdasarkan kalender Saka, perayaan umat Hindu tidak hanya Nyepi saja. Terdapat juga yang namanya Hari Raya Sirawatri.

  • Hari Raya Sirawatri

Siwaratri adalah hari suci yang disakralkan oleh semua umat Hindu dengan melaksanakan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa. Kemudian hal itu dilakukan dengan pelaksanaan yang khusus.

Siwaratri merupakan sebuah festival dan hari raya umat Hindu yang diselenggarakan setiap tahun untuk memperingati hari turunnya TUHAN/Siwa. Atau Siwaratri secara harfiah berarti malam agung turunnya Siwa.

Hari Suci Siwaratri jatuh setiap setahun sekali berdasarkan kalender Isaka yaitu pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu (bulan ke tujuh) dalam perhitungan kalender bali sebelum bulan mati (tilem), dalam kalender Masehi jatuh setiap bulan Januari.

Secara rinci kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan pada hari suci Siwaratri adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, maka terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan yang diperkirakan selesai tepat pada jam 06.00 dinihari
  2. Monabrata atau berdiam diri dan tak berbicara. Pelaksanaannya dilangsungkan di pagi hari dan dilakukan selama 12 jam tepatnya dari jam 06.00 – 18.00.
  3. Mejagra atau tidak tidur selama semalaman. Pelaksanaannya berlangsung dari pagi sampai pagi hari di keesokan harinya yang dilakukan selama 36 jam dari jam 06.00 – 18.00 di keesokan harinya.
  4. Upawasa atau tidak makan dan tidak minum. Puasa ini dilakukan selama 24 jam dari jam 06.00 – 06.00. Apabila sudah 12 jam maka diperbolehkan untuk makan dan minum dengan syarat bahwa nasi yang dimakan ialah nasi putih dengan garam dan minum air putih (air tawar tanpa gula).

Dapat disimpulkan bahwa Malam Siwaratri bukanlah malam peleburan dosa, melainkan peleburan kepapaan dari kelemahan sifat-sifat manusia. Jadi sangat dianjurkan bagi Umat Hindu untuk melakukan Bratha Siwaratri sehari sebelum Purnamaning sasih Kepitu. Yang tujuannya mengurangi kepapaan dan nafsu-nafsu indria yang dimiliki oleh manusia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!